Sunday, January 9, 2011

Catur Weda

By: Hiero & Ade
date tebet 2
@rtmosphere Community

Menurut adat istiadat Jawa, dalam tradisi menjelang pernikahan, pihak yang dituakan, membacakan ‘Catur Weda’ yang artinya 4 wejangan kepada mempelai pria dan wanita. Pesan ini sudah ada pakemnya, dan biasanya dibacakan pada saat setelah siraman atau malam midodareni (malam terakhir pengantin sebagai lajang, ketika calon pengantin pria dan rombongan keluarga mendatangi kediaman pengantin wanita).

Namun ternyata, ayah saya mempersiapkan sesuatu yang sangat special. Usai perkenalan pihak keluarga, Hiero, yang pada saat itu statusnya menjadi calon suami saya, menerima wejangan ini dalam bentuk cetakan yang dibuat oleh Bapak, dan sebagai background tulisan adalah gambar undangan kami. Saat itu, Bapak saya tidak banyak berkata-kata, namun hanya memberikan wejangan ini kepada Hiero. Ini adalah kali pertama dan terakhir Bapak memberikan wejangan ini sebagai pajangan untuk dihayati oleh anak-anaknya yang akan menikah. Karena saya adalah putrinya yang terakhir menikah, dan ketika kakak-kakak saya menikah, beliau tidak melakukan hal ini, wejangan dibacakan pada saat siraman.

Saya sangat menghargai apa yang telah dilakukan Bapak dan senang sekali karena diperlakukan begitu istimewa. Dengan pengetahuannya yang sangat terbatas dalam IT, beliau bisa membuat tulisan tersebut begitu rapi dan istimewa karena meletakkan design undangan kami sebagai backgroundnya, kemudian mencetaknya berwarna dan menaruhnya dalam frame hitam sehingga bisa dipajang dan dibaca setiap kami melihatnya.

Jika melihat pada apa yang telah saya lalui, ketika saya memulai hubungan dengan Hiero, hingga saat perkenalan dengan orangtua, lamaran dan pernikahan, kami berdua selalu berusaha untuk menghormati orang tua dan taat terhadap apa yang mereka sampaikan. Terkadang kami berdua harus melewati argumentasi demi argumentasi, baik terhadap diri sendiri, pasangan, dan juga dengan orangtua. Namun taat kepada orangtua bukan berarti kami tidak memiliki pendirian. Tetap kami berusaha untuk menyampaikan apa yang menjadi pilihan dan keputusan kami berdua. Tidaklah mudah karena orangtua saya masih menganggap bahwa saya masih ‘milik’ mereka yang bisa diatur dan diharuskan untuk menuruti kebiasaan dan tradisi yang mereka biasakan kepada kami, anak-anaknya untuk dilakukan.

Tapi, ayat inilah yang selalu saya dan Hiero ingat: Efesus 6:2 Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini.

Ini adalah pesan dari Bapak kepada Hiero, sebagai suami dan kelak, sebagai seorang ayah.

Ananda yang tercinta, Hiero Rahadiyan,
Ananda esok pagi akan menjalani upacara pernikahan. Untuk memasuki upacara yang sangat penting bagi hidup ananda itu, malam ini dengarkanlah catur weda, ialah 4 nasihat penting peninggalan nenek moyang kita yang perlu kita renungkan ketika memasuki gapura pernikahan.

Pertama:
Sesungguhnya, seorang pria yang sudah memperistri seorang wanita pilihan hatinya, sudah berubah, bukan lagi seorang yang sendirian. Anandapun nanti berubah, menjadi satu unit dengan istrimu. Ananda bukan lagi seorang perjaka yang hidup seorang diri, demikian pula istrimu. Ananda dan istri adalah dua orang yang bertubuh dua, namun berjiwa satu. Itulah sebabnya disebut "Garwo", yang artinya "sigaraning nyawa", yakni belahan jiwa. Sampai maut menjemputmu nanti, Ananda satu dalam bersikap, berfikir, dan bertindak.

Kedua:
Sejak Ananda beristri, hendaknya selalu menaruh hormat dan ikhlas dengan tulus hati kepada ayah dan ibu mertua ananda. Karna Ananda sudah satu jiwa dengan istrimu, maka ayah dan ibu mertuamu hendaknya ananda rengkuh seperti ayah dan ibu kandungmu sendiri.

Ketiga:
Selanjutnya Ananda sudah lepas dari ayah dan ibumu, Ananda berdua sudah berdiri tegak sebagai manusia yang langsung bertanggung jawab kepada Tuhanmu, dalam mengatur hidupmu, sikap serta tingkah lakumu. Ananda harus mampu membentuk teman-teman sendiri, mampu " Ajur-Ajer", yang artinya luwes bergaul, sehingga Ananda dihargai sebagai warga masyarakat yang dihortmati, disayangi, dan direstui oleh segenap teman, sahabat dan kenalanmu dari bawah sampai atas.

Keempat:
Hendaknya Ananda sebagai umat mulia di dunia makin bertakwa kepada Tuhan, mematuhi semua peraturan Tuhan, mengikuti segala petunjuk-petunjuk yang benar, dan senantiasa menjauhi segala laranganNya, agar hidupmu senantiasa tentram lahir batin, didekatkan pada keselamatan dan rezeki, serta dijauhkan dari malapetaka dan kesusahan hidup.

Pesan yang sangat sederhana, yang disampaikan oleh seorang ayah kepada calon menantunya. Namun isi dari pesan tersebut sangatlah mendasar dan perlulah selalu diingat bahwa hubungan orangtua dan anak tidak akan pernah bisa terpisahkan, sama halnya hubungan seorang suami dengan istrinya. Syukurilah setiap hubungan yang kita miliki. Sebaik atau seburuk apapun orangtua kita, bersyukurlah karena mereka, kita ada. Mungkin tidak semua ayah melakukan apa yang Bapak lakukan, atau mungkin banyak juga para ayah lainnya yang melakukan lebih dari apa yang Bapak saya lakukan, tapi beberapa hal yang saya pelajari dari Bapak adalah kesederhanaan, jujur dan kerendahan hati, merupakan suatu kesatuan yang harus dilaksanakan jika kita mau menjaga kelanggengan hubungan, tidak hanya dengan pasangan hidup kita, tapi juga dengan sesama.

Tuhan memberkati. 
Hiero & Ade

No comments:

Post a Comment

Post a Comment